Rabu, 29 Oktober 2014

The Puppet, my Favorite



Dyah Shinta Kusumaningtyas, dilihat dari namanya pun sudah terlihat bahwa saya adalah orang jawa. Saya asli orang Yogyakarta, bahkan teman-teman saya pun sering berkata kalau saat saya berbicara terlihat sekali “medhok”nya. Ya maklumlah saya kan orang Jogja. Saya suka nonton wayang kulit, karena saya suka ceritanya atau lakonnya (dalam bahasa jawa). Cerita atau lakon wayang itu menceritakan tentang kehidupan manusia zaman kerajaan dulu. Dan di dalamnya pun mengandung banyak sekali pesan-pesan kehidupan. Dalam pewayangan itu ada dua cerita besar yaitu “Mahabharata” dan “Ramayana”. Namun dalam cerita wayang itu banyak sekali sub-subnya, jadi kalau diceritakan mencapai ratusan sub-sub cerita wayang. Nah di dalam pertunjukan wayang itu biasanya hanya satu sub cerita wayang saja yang ditampilkan, itupun semalam suntuk belum selesai ceritanya. Biasanya sampai pagi baru selesai pertunjukkannya. Kalau didaerah Jakarta biasanya saya nonton  di Gelora Bung Karno, Senayan. Di TMII juga katanya sering ada, tapi tidak setiap pertunjukkan wayang saya kunjungi. Kadang kalau ada waktu luang saya baru nonton. Saya seringnya mendengarkan wayang lewat radio, dan itu juga lebih seru karena suara dalangnya menjadi terdengar lebih jelas. Kalau di kampung saya di daerah Jogja ada pertunjukkan wayang hanya ketika ada acara hajatan atau ketika Rasulan (Bersih Desa). Biasanya ketika rasulan pasti ramai sekali yang menonton. Saya sangat suka dengan wayang karena wayang merupakan salah satu dari ribuan kebudayaan khas Indonesia. Cerita wayang sendiri sebenarnya berasal dari India, namun bentuk wayang itu berasal dari Indonesia sendiri. Banyak sekali jenis wayang, namun saya lebih suka jenis wayang kulit. Saya suka jenis wayang kulit karena bentuk wayangnya itu unik sekali. Dhalang pun bisa hafal semua nama wayang yang satu dengan yang lain. Bisa dibayangkan kan kalau wayang kulit itu nama-nama tokohnya sangat banyak dan bentuknya juga berbeda-beda, namun dhalangnya bisa hafal. Saya juga mengagumi sosok seorang dhalang karena bisa memainkan semua wayangnya dan bisa membedakan setiap suara wayangnya. Disamping itu saya juga suka dengan suara gamelan yang mengiringi pertunjukkan wayang. Biasanya dalam pertunjukkan itu ada beberapa sindhen yang menyanyi dalam iringan suara gamelan tersebut. Saya ingin sekali rasanya bisa memainkan gamelan. Bahkan saya bermimpi suatu saat ingin memiliki sanggar wayang. Jadi dalam sanggar itu kita bisa berlatih memainkan gamelan, berlatih menyanyi seperti sindhen, dan juga berlatih menjadi dhalang. Dengan memiliki sanggar itu semoga bisa menjadi wujud dalam melestarikan salah satu budaya Indonesia yaitu wayang kulit.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar