Minggu, 04 Januari 2015

Rasulan



Apa sih itu rasulan? Pasti orang mengira rasulan itu berasal dari kata rasul atau mungkin mereka berfikir ada hubungannya dengan Rasul Allah. Tapi untuk dikampung saya, rasulan itu merupakan tradhisi atau kebudayaan. Rasulan itu merupakan ungkapan rasa syukur masyarakat kepada Sang Pencipta atas limpahan rezeki atau hasil panen yang diterima. Rasulan bisa juga disebut dengan bersih desa. Acara rasulan tersebut biasanya seperti party atau pesta besar-besaran di sebuah kampung yang dilakukan oleh semua masyarakat kampung tersebut. Di kampung saya yaitu bernama Desa Wareng daerah Wonosari, Gunungkidul, DI Yogyakarta kemarin tanggal 25 Agustus 2014 tepatnya hari Senin Legi mengadakan acara rasulan. Tradhisi rasulan rutin diadakan setahun sekali, tetapi untuk tanggalnya selalu berbeda-beda sesuai dengan kesepakatan perangkat desa dan masyarakat. Acara tersebut merupakan ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas limpahan rezeki dan panen yang diterima masyarakat. Perlu diketahui sebelumnya, masyarakat Desa Wareng memang sebagian besar adalah petani. Jadi kalau hasil panennya melimpah mereka akan sangat bersyukur dan sangat senang ketika rasulan. Sebelum diadakannya acara rasulan biasanya dimusyawarahkan terlebih dahulu oleh perangkat desa dan masyarakat. Biasanya masyarakat akan dimintai uang sebagai patungan untuk acara tersebut. Acara rasulan terjadi selama 2 hari 2 malam bahkan lebih. Biasanya ketika rasulan bertepatan dengan 17 Agustusan, maka untuk perayaannya pun digabung agar lebih meriah. Ketika sebelum hari puncaknya pun biasanya akan diadakan berbagai lomba. Ada lomba sepak bola, volley, balap karung, lalu untuk anak – anak kecil akan diadakan lomba menggambar, mewarnai, melukis dan lain – lain. Banyak sekali yang ikut berpartisipasi dalam perayaan tersebut. Lalu hari berikutnya ada acara dangdutan dan campursarian tentunya dengan mengundang para artis dari daerah setempat juga. Biasanya acara dangdutan dan campursarian itulah yang paling ramai penonton. Lalu pada hari puncaknya para masyarakat akan melakukan kirab atau pawai keliling desa. Sebelum kirab, masyarakat membuat nasi tumpeng lengkap beserta lauknya dan juga ayam ingkung. Makanan – makanan tersebut lalu dibawa ke balai desa untuk didoakan dan setelah itu saling bertukar makanan tersebut. Tukar – menukar makan tersebut tujuannya agar bisa mencicipi makanan dari masyarakat lain dan juga agar lebih akrab lagi. Pada saat perayaan rasulan tanggal 25 Agustus 2014 kemarin pun saya ikut berpartisipasi, saya ikut kirab keliling desa. Yang akan ikut kirab pun harus didandani, para perempuan harus memakai kebaya dan yang laki – laki harus memakai baju surjan dan blangkon. Propertinya pun banyak sekali. Di Desa Wareng terbagi menjadi 6 padukuhan dan agar lebih meriah lagi, para perangkat desa pun mengadakan lomba kirab. Lomba tersebut akan diikuti oleh 6 padukuhan yaitu, Wareng 1, Wareng 2, Wareng 3, Wareng 4, Singkar 1 dan Singkar 2. Agar lebih meriah dan kompak maka setiap padukuhan harus mengerahkan setiap warganya untuk ikut kirab. Semakin banyak yang ikut kirab, maka semakin bagus. Pada kirab tersebut ada berbagai cabang, yaitu ada cabang olahraga, kesenian, pertanian, ibu – ibu PKK, keagamaan dan masih banyak lagi. Pada saat itu saya ikut yang ibu – ibu PKK karena memang kekurangan personil. Saya sangat senang bisa ikut berpartisipasi dalam kirab budaya pada acara rasulan tersebut. Kirabnya pun sangat ramai, meriah dan kreatif semua. Dan Alhamdulillah padukuhan tempat tinggal saya mendapat juara 2 karena kami sangat kreatif dan kompak. Setelah acara kirab, ada banyak sekali tontonan. Ada reog, jathilan, ledhek, jaran kepang dan lain – lain. Lalu malamnya ada pertunjukan wayang kulit. Pertunjukan wayang kulit tersebut diadakan dari malam sampai pagi. Saya juga suka menonton wayang, tetapi ketika rasa kantuk pun menyerang saya lebih memilih pulang. Dari acara rasulan tersebut hal yang bisa saya petik adalah suatu kekompakan itu sangat perlu. Walaupun hanya setahun sekali, tetapi setidaknya warga sekampung bisa merayakan rasulan tersebut agar bisa lebih menyatu, kompak, loyal dan akrab. Lalu hal yang paling penting adalah perlunya mengekspresikan rasa syukur kita kepada Sang Pencipta atas segala kenikmatan yang telah diberikan. Itulah hal – hal yang menurut saya rasulan itu sangat menarik untuk diceritakan, diapresiasikan dan dilestarikan. Lestarikan budaya daerah.



















Gunungkidul Handayani



Bagi orang yang suka travelling pasti tahu daerah Gunungkidul, yaitu salah satu kabupaten di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Gunungkidul adalah tempat lahir saya, tepatnya di daerah Wonosari. Setiap liburan dan hari raya saya pasti menyempatkan diri untuk pulang ke kampung halaman saya itu. Di Gunungkidul ini banyak sekali tempat wisata, terutama yang berbau air seperti pantai, air terjun, sungai dan masih banyak lagi. Menurut saya Gunungkidul merupakan tempat yang sangat indah dan menarik. Kenapa dinamakan “Gununungkidul’? Karena letaknya ada di dataran tinggi, lumayan jauh dari Jogja kota. Gunungkidul dibagi lagi menjadi beberapa wilayah diantaranya Wonosari, Karangmojo, Playen, Semin, Ngawen, Tepus, Semanu dan masih banyak lagi, oleh karena itu wilayah Gunungkidul memang sangat luas. Tempat wisata disana sebagian besar pantai. Ada Pantai Baron, Pantai Krakal, Pantai Kukup, Pantai Drini, Pantai Sundak, Pantai Sepanjang, Pantai Ngrenehan dan masih banyak lagi, saya tidak bisa menyebutkan satu-persatu. Menurut suatu web yang pernah saya baca ada sekitar 70 pantai di Daerah Gunungkidul. Dan saya pun baru mengunjungi 3 dari 70 pantai tersebut, entah kapan saya akan mengunjungi semua pantai yang ada di Gunungkidul tersebut. Memang masih banyak juga pantai disana yang belum begitu terkenal. Selain pantai, ada juga goa, air terjun dan sungai. Untuk goa setahu saya Goa Pindul yang sangat terkenal. Kalau air terjun setahu saya ada air terjun Nglanggeran, kalau untuk sungai ada Sungai Jonge yang terletak di daerah Semanu, konon sungai tersebut tidak pernah kering. Itulah beberapa tempat wisata di Gunungkidul. Selain tempat wisata, yang menurut saya sangat menarik dari Gunungkidul itu adalah kebudayaannya. Banyak sekali budaya disana. Ada rasulan atau bersih desa, mitoni, selapanan, maulidan dan masih banyak lagi. Untuk rasulan atau bersih desa itu merupakan bentuk rasa syukur masyarakat kepada Allah SWT atas hasil panen yang telah diterima. Perlu diketahui bahwa sebagian masyarakat daerah kampungnya adalah petani. Tetapi untuk saat ini sudah banyak kemajuan, masyarakatnya pun banyak yang sudah bekerja sambilan yaitu berdagang. Rasulan tersebut diadakan setahun sekali dan setiap daerah beda-beda waktunya. Seperti daerah Wareng yang terletak di Wonosari, Gunungkidul mengadakan rasulan pada tanggal 25 Agustus 2014 kemarin yang jatuh pada hari Senin Legi. Bisa saja tahun 2014 tanggal 25 Agustus, tapi nanti tahun 2015 pasti beda lagi tanggalnya tergantung kesepakatan para perangkat desa dan masyarakat. Lalu ada tradhisi mitoni, yaitu tradhisi tujuh bulanan bagi ibu yang sedang hamil anak pertama. Selanjutnya ada tradhisi selapanan, yaitu tradhisi tasyakuran anak bayi yang telah lahir dan baru berusia 35 hari. Tradhisi maulidan biasanya para masyarakat masak nasi tumpeng lengkap beserta lauknya dan setelah itu mambawa nasi tumpeng itu ke balai desa untuk di doakan oleh seorang yang ahli agama. Setelah didoakan lalu nasi tumpeng tersebut ditukar-tukar, dengan tujuan agar semua masyarakat bisa mencicipi makanan masyarakat lain atau agar bisa membuat masyarakat lebih akrab dan loyal dengan para tetangga. Sebenarnya masih banyak lagi kebudayaan atau tradhisi yang ada di Gunungkidul namun saya tidak bisa menuliskannya semua. Bahkan teman saya yang sangat cinta dengan Gunungkidul membuat kaos yang bertuliskan “South Mountain” yaitu bahasa Inggris dari Gunungkidul. Selain keuntungan finansial, tujuan utama dibuatnya kaos tersebut adalah untuk mempromosikan Gunungkidul kepada semua orang. Dan Alhamdulillah lumayan banyak juga yang membelinya. Itulah hal-hal yang menurut saya Gunungkidul merupakan suatu tempat yang indah dan juga menarik untuk diceritakan dan diapresiasikan. Sampai-sampai ibu saya pun menginginkan saya untuk menjadi bupati Gunungkidul agar bisa membawa Gunungkidul menjadi lebih baik, lebih makmur, lebih tentram dan yang terutama lebih maju. Namun perjalanan saya masih jauh, masih sangat belum pantas dan belum bisa menjadi seorang bupati, tetapi itu adalah sebuah keinginan atau harapan seorang ibu kepada anaknya.

Rabu, 29 Oktober 2014

My Village



Gunungkidul adalah tempat kelahiran saya. Siapa sih yang belum tahu Gunungkidul. Kalau yang suka travelling pasti sudah tahu banyak tentang Gunungkidul. Gunungkidul merupakan salah satu tempat yang kaya akan tempat wisata, khususnya pantai. Di Gunungkidul terdapat Pantai Baron, Pantai, Kukup, Pantai Krakal, Pantai Pok Tunggal, Nglanggeran, Goa Pindul, dan masih banyak lagi yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu. Tempat wisata di Gunungkidul sangat indah, kalau kesana pasti ketagihan ingin kesana lagi. Oleh karena itu saya sangat cinta dengan tempat kelahiran saya yaitu Gunungkidul Handayani. Rumah kakek dan nenek saya tepatnya di daerah Wonosari, Gunungkidul, Yogyakarta. Kakek dan nenek saya adalah petani. Sejak kecil saya ikut dengan mereka, oleh karena itu saya semasa kecil sering ikut ke sawah membantu mereka. Ketika SD sehabis pulang sekolah saya membantu mencari makanan sapi di sawah, saya mencari rumput. Ya walaupun hasil saya merumput sedikit, setidaknya saya sudah membantu kakek nenek saya. Ketika panen cabai saya juga sering ikut untuk memetik cabai. Ketika panen kacang saya ikut juga membantu. Ketika panen jagung saya ikut membantu menjemur dan “motheki” jagung. Walaupun hanya petani, tetapi Alhamdulillah hasil panennya sangat memuaskan dan cukup. Saya suka membantu orang bertani, hanya saja saya tidak terlalu kuat menahan panasnya sinar matahari. Sekarang kakek dan nenek saya pun  dibantu oleh orang lain dalam mengurus sawah. Memang kakek nenek saya memiliki beberapa sawah dan karena sudah tua maka tidak memungkinkan untuk mengurusnya sendiri. Kakek dan nenek saya pun tinggal menikmati hasil panennya karena sudah ada yang membantu. Saya juga sering pulang kampung untuk menengok mereka. Kalau sedang libur saya menyempatkan diri untuk melepaskan rasa kangen dengan mereka dan tempat kelahiran saya. Saya memang dilahirkan di Gunungkidul. Ketika saya sudah berumur beberapa  bulan, ibu saya kembali ke Jakarta karena memang bekerja di Jakarta. Dan saya dari TK sampai SMA tinggal bersama kakek nenek. Ketika lulus SMA saya kuliah di Gunadarma, sehingga saya harus tinggal bersama ayah dan ibu saya di Jakarta. Sebenarnya berat meninggalkan kakek nenek saya, namun apalah daya. Yang penting ketika libur, saya pasti selalu pulang kampung untuk menengok mereka.

The Puppet, my Favorite



Dyah Shinta Kusumaningtyas, dilihat dari namanya pun sudah terlihat bahwa saya adalah orang jawa. Saya asli orang Yogyakarta, bahkan teman-teman saya pun sering berkata kalau saat saya berbicara terlihat sekali “medhok”nya. Ya maklumlah saya kan orang Jogja. Saya suka nonton wayang kulit, karena saya suka ceritanya atau lakonnya (dalam bahasa jawa). Cerita atau lakon wayang itu menceritakan tentang kehidupan manusia zaman kerajaan dulu. Dan di dalamnya pun mengandung banyak sekali pesan-pesan kehidupan. Dalam pewayangan itu ada dua cerita besar yaitu “Mahabharata” dan “Ramayana”. Namun dalam cerita wayang itu banyak sekali sub-subnya, jadi kalau diceritakan mencapai ratusan sub-sub cerita wayang. Nah di dalam pertunjukan wayang itu biasanya hanya satu sub cerita wayang saja yang ditampilkan, itupun semalam suntuk belum selesai ceritanya. Biasanya sampai pagi baru selesai pertunjukkannya. Kalau didaerah Jakarta biasanya saya nonton  di Gelora Bung Karno, Senayan. Di TMII juga katanya sering ada, tapi tidak setiap pertunjukkan wayang saya kunjungi. Kadang kalau ada waktu luang saya baru nonton. Saya seringnya mendengarkan wayang lewat radio, dan itu juga lebih seru karena suara dalangnya menjadi terdengar lebih jelas. Kalau di kampung saya di daerah Jogja ada pertunjukkan wayang hanya ketika ada acara hajatan atau ketika Rasulan (Bersih Desa). Biasanya ketika rasulan pasti ramai sekali yang menonton. Saya sangat suka dengan wayang karena wayang merupakan salah satu dari ribuan kebudayaan khas Indonesia. Cerita wayang sendiri sebenarnya berasal dari India, namun bentuk wayang itu berasal dari Indonesia sendiri. Banyak sekali jenis wayang, namun saya lebih suka jenis wayang kulit. Saya suka jenis wayang kulit karena bentuk wayangnya itu unik sekali. Dhalang pun bisa hafal semua nama wayang yang satu dengan yang lain. Bisa dibayangkan kan kalau wayang kulit itu nama-nama tokohnya sangat banyak dan bentuknya juga berbeda-beda, namun dhalangnya bisa hafal. Saya juga mengagumi sosok seorang dhalang karena bisa memainkan semua wayangnya dan bisa membedakan setiap suara wayangnya. Disamping itu saya juga suka dengan suara gamelan yang mengiringi pertunjukkan wayang. Biasanya dalam pertunjukkan itu ada beberapa sindhen yang menyanyi dalam iringan suara gamelan tersebut. Saya ingin sekali rasanya bisa memainkan gamelan. Bahkan saya bermimpi suatu saat ingin memiliki sanggar wayang. Jadi dalam sanggar itu kita bisa berlatih memainkan gamelan, berlatih menyanyi seperti sindhen, dan juga berlatih menjadi dhalang. Dengan memiliki sanggar itu semoga bisa menjadi wujud dalam melestarikan salah satu budaya Indonesia yaitu wayang kulit.

Me and Me…

Nama saya adalah Dyah Shinta Kusumaningtyas. Yang memberi nama itu adalah ibu saya. Mungkin ada yang bertanya-tanya tentang arti nama saya. “Dyah” itu berarti perempuan atau wanita. Kalau “Shinta” saya belum tahu artinya apa, mungkin ibu saya menginginkan saya seperti sosok Dewi Shinta dalam pewayangan. Dewi Shinta adalah istri dari Pangeran Rama yang sangat cantik, baik hati dan juga setia kepada suaminya. Mungkin ibu saya menginginkan saya seperti seorang Dewi Shinta. Kalau “Kusuma” itu artinya bunga, dan “ningtyas” itu artinya di hati. Ibu saya ingin ketika ada orang yang melihat atau bertemu dengan saya, hatinya langsung berbunga-bunga. Atau bisa juga menginginkan saya menjadi bunga dihati orang lain, terutama dihati para kaum Adam. Dirumah saya biasa dipanggil Shinta. Di kampus biasa dipanggil Dyah, Shinta dan ada juga yang memanggil Jojo. Saya terlahir dari sebuah keluarga sederhana. Kedua orang tua saya asli Yogyakarta, saya pun juga lahir di Yogyakarta. Namun ayah saya bekerja di Jakarta dan memiliki rumah disana. Saya memiliki dua orang adik laki-laki semua. Adik saya yang satu kelas 2 SMP dan yang satu kelas 5 SD. Mereka sangat nakal, setiap hari sayapun sering bertengkar dan bercanda dengan mereka. Namun walaupun begitu, mereka tetap adik-adik saya. Saya sangat bersyukur memiliki keluarga seperti mereka. Sejak kecil saya tinggal di Yogyakarta bersama kakek dan nenek saya. Dari TK sampai SMA saya di Yogyakarta. Ketika SMA saya mendapat undangan SNMPTN, namun saya tidak lolos. Ketika lulus SMA saya pun mencoba untuk mendaftar SNMPTN tertulis, namun alhasil saya pun juga tidak lolos. Saat itu saya sempat frustasi akan kuliah dimana, karena saya tidak diterima di perguruan tinggi negeri manapun. Lalu orang tua saya pun menyarankan saya untuk kuliah di Universitas Gunadarma daerah Depok, Jawa Barat. Karena saudara saya juga ada yang kuliah disana, sudah lulus dan sudah bekerja mapan. Awalnya saya tidak tahu Universitas Gunadarma itu seperti apa. Saya pun browsing mengenai Universitas Gunadarma, ternyata Gundar adalah universitas swasta terbaik di Indonesia. Akhirnya saya pun mencoba mendaftar kesana dan Alhamdulillah diterima. Saya pun tidak frustasi lagi memikirkan akan kuliah dimana. Karena saya sudah mempunyai pilihan untuk kuliah di Gunadarma. Namun saya sedih, karena harus meninggalkan kakek dan nenek saya yang ada di Yogyakarta. Dan saya juga sedih harus meninggalkan kampung halaman saya di Yogyakarta. Namun apalah daya, saya harus pergi mencari ilmu. Semoga ilmu yang saya dapat kelak bisa berguna dan berkah bagi saya dan orang lain. Terutama bagi nusa dan bangsa. Aminn.